Di tengah perubahan kebijakan penjaminan mutu pendidikan tinggi yang semakin menekankan outcome nyata, Akademi Kesehatan dr. Soedjono Magelang menggelar pelatihan intensif Audit Mutu Internal (AMI) selama dua hari yaitu 28 sd 29 Juli 2026. Pelatihan ini bukan sekadar agenda administratif, melainkan sebuah forum akademik yang menegaskan komitmen institusi terhadap budaya mutu berkelanjutan. Kehadiran dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa memperlihatkan bahwa mutu adalah tanggung jawab kolektif, bukan hanya urusan birokrasi.

Sejak pagi hari, suasana kampus di Jalan Urip Sumoharjo, Magelang, terasa berbeda. Aula utama dipenuhi peserta yang datang dengan antusias. Direktur Akademi, Lilis Susiati, S.K.M., M.Kes., membuka acara dengan sambutan yang menekankan pentingnya AMI sebagai instrumen strategis. “Audit Mutu Internal adalah cermin institusi. Melalui audit, kita bercermin pada kekuatan dan kelemahan, lalu bersama-sama mencari ruang perbaikan,” ujarnya. Kata-kata itu menjadi benang merah yang mengikat seluruh rangkaian kegiatan, mengingatkan peserta bahwa audit bukanlah proses mencari kesalahan, melainkan sarana refleksi untuk tumbuh lebih baik.

Hari pertama pelatihan difokuskan pada pemahaman kebijakan dan simulasi audit dokumen. Materi awal membedah dasar hukum AMI, mulai dari Undang-Undang Pendidikan Tinggi hingga Permendiktisaintek Nomor 10 Tahun 2026. Narasumber utama, Nursaima Siregar, S.Tr.Kes., M.Kes., Kepala SPMI, menekankan bahwa orientasi mutu kini bergeser dari sekadar dokumen menuju outcome nyata Tridharma Perguruan Tinggi. Ia menjelaskan bahwa mutu bukan hanya soal kesesuaian dengan standar, tetapi juga tentang dampak nyata bagi masyarakat.

Diskusi kelompok kemudian mengajak peserta merumuskan kebijakan audit sesuai lingkup program studi. Hasilnya, lahir draft kebijakan yang menekankan relevansi kurikulum dengan kebutuhan masyarakat, integrasi data PDDikti sebagai basis evaluasi, serta transparansi dalam setiap proses. Peserta tampak serius berdiskusi, mencatat poin-poin penting, dan menyusun rekomendasi yang kelak akan menjadi pedoman implementasi AMI di tingkat program studi.

Siang harinya, suasana berubah menjadi lebih teknis ketika peserta diajak melakukan simulasi audit dokumen. Dengan menggunakan checklist, mereka menilai kesesuaian kurikulum, silabus, dan capaian pembelajaran dengan standar mutu. Ari Susilowati, S.Si., M.Biomed., dosen TLM sekaligus kepala penjamin mutu bidang penelitian, pengabdian dan AMI, memimpin sesi ini dengan gaya interaktif. Ia menekankan pentingnya objektivitas dan independensi auditor. “Audit bukan sekadar mencari kesalahan, melainkan memastikan konsistensi antara rencana dan pelaksanaan,” katanya. Simulasi ini membuka mata banyak peserta bahwa audit adalah proses yang menuntut ketelitian, kejujuran, dan keberanian untuk menyampaikan temuan.

Hari kedua pelatihan menghadirkan dinamika yang lebih intens. Pagi hari dimulai dengan simulasi audit lapangan atau visitasi. Peserta berperan sebagai auditor dan teraudit, melakukan wawancara, observasi sarana prasarana, serta menilai kecukupan sumber daya. Latihan ini menekankan pentingnya netralitas auditor dan keterbukaan teraudit. Beberapa peserta mengaku pengalaman ini membuat mereka lebih memahami bagaimana audit dapat menjadi sarana dialog konstruktif, bukan sekadar pemeriksaan formalitas.

Setelah itu, peserta menyusun temuan audit berdasarkan hasil dokumen dan visitasi. Temuan diklasifikasikan menjadi observasi, ketidaksesuaian minor, dan ketidaksesuaian mayor. Salah satu contoh nyata yang muncul adalah ketidaksesuaian antara rencana pembelajaran semester dengan pelaksanaan di kelas. Temuan ini kemudian dibahas dalam rapat penutupan audit, di mana auditor menyampaikan rekomendasi dengan bahasa diplomatis agar teraudit merasa terbantu, bukan disalahkan.

Sesi terakhir adalah simulasi Rapat Tinjauan Manajemen (RTM). Forum ini menjadi wadah strategis bagi pimpinan untuk menindaklanjuti hasil audit. Rekomendasi peningkatan mutu disusun secara sistematis, dengan penekanan pada tindak lanjut berjenjang dari program studi hingga institusi. Diskusi berlangsung hangat, mencerminkan komitmen bersama untuk menjadikan mutu sebagai budaya, bukan sekadar kewajiban administratif.

Suasana pelatihan selama dua hari ini penuh energi positif. Peserta aktif berdiskusi, bertanya, dan berbagi pengalaman. Banyak yang menilai bahwa pelatihan ini membuka wawasan baru tentang pentingnya budaya mutu. Dampak langsung dari kegiatan ini adalah terbentuknya Panitia Pelaksana AMI 2026 yang siap mengawal implementasi audit, meningkatnya pemahaman sivitas akademika tentang peran AMI sebagai refleksi institusi, serta terciptanya komitmen bersama untuk menjadikan mutu sebagai budaya.

Pelatihan ini juga menegaskan bahwa mutu pendidikan tinggi bukan hanya soal kesesuaian dengan standar, tetapi juga tentang dampak nyata bagi masyarakat. Sebagaimana ditegaskan dalam pedoman: “Audit Mutu Internal hadir bukan hanya untuk menilai kesesuaian dengan standar, tetapi juga untuk memastikan bahwa perguruan tinggi mampu bertransformasi, beradaptasi, dan memberikan kontribusi nyata.”

Dengan semangat kebersamaan, pelatihan AMI di Akademi Kesehatan dr. Soedjono menjadi tonggak penting dalam perjalanan penjaminan mutu. Dua hari penuh pembelajaran, simulasi, dan refleksi ini meneguhkan komitmen institusi untuk menjadi perguruan tinggi kesehatan unggul di tingkat nasional dan Asia Tenggara pada tahun 2035.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *